ڤوندوق ادءدينيهالفالهيه ، قڬ دالم هوم ، سوڠاي ڤتاي ، ڤاسير ڤوتيه ، كلنتن, kg dalam huma , sungai petai , pasir puteh kelantan . sesiapa ingin menderma untuk pembangunan pondok dan masjid silalah masukan ke no akaun bank islam : 1303 5010 0263 51 ( madrashah ad'diniyah al'falahiyah , pasir putih )
Wednesday, December 30, 2009
Falsafah Hidup- (Buat Para Pejuang!)
BERANI
Adapun di negara yang masih dijajah, maka para pemudanya tampil ke medan
pergerakan menuntut hak-hak tanah air, tidak mengenal jemu, tidak mengenal mundur, walaupun akan jatuh miskin dan melarat. Kerana dia tahu bahawa yang dituntutnya ialah perkara yang sah, yang diakui oleh seluruh manusia yang beradab. Dia belum hendak undur sebelum maksudnya tercapai. Dia sabar dan tawakal, tidak putus pengharapan.
KEBERANIAN BUDI
Tidaklah suatu bangsa tegak, dan suatu fahaman dapat berdiri, kalau di antara bangsa sendiri tidak ada yang berani menyatakan kebenaran. Sebab tiap-tiap bangsa amat segan mengubah yang lama. Dia hendak tetap pada yang lama, padahal kadang-kadang tidak sesuai dengan zamannya lagi. Kalau ada suara baru mengkritik yang lama itu, tentu akan mendapat sambutan yang sengit dari si cap lama. Orang akan ribut. Tetapi yang berani menyatakan kebenaran itu mesti tahan. Kerana di dalam menjatuhkan sesuatu benteng, orang yang agak di barisan pertama harus kena peluru, dan kadang-kadang jatuh mati. Tetapi askar barisan belakang akan berjalan terus di atas bangkai orang-orang yang dibarisan muka tadi. Maju terus , menyerang terus, sampai peluru musuh habis. Kemenangan di dapat dan perjuangan membawakan hasil yang menyenangkan.
Demikaianlah orang yang berani memyatakan fahaman baru. Orang itu memang selalu datang mendahului zamannya. Orang-orang yang sama hidup dengan dia belum kenal akan dia. Kelak mereka akan takluk juga. Sekurang-kurangnya orang marah kerana kritiknya, tetapi dengan diam-diam orang turuti apa yang diperkatakannya.
Rahsia kemajuan negeri-negeri Barat ialah keberanian orang-orang yang terkemuka menyatakan fikiran dan pendapat. Beratus tahun lamanya benua Eropah karam di dalam khayalan dan angan-angan. Tertutup pintu dari ilmu, yang sejati. Penyelidikan hanya berpegang di tangan kepala-kepala agama. Tiba-tiba mengeliatlah kebenaran, keluar dari pasungnya, bahawasanya ilmu itu bukanlah kepunyaan gereja sahaja, tetapi kepunyaan segala orang. Berpuluh-puluh tahun lamanya orang-orang yang menyatakan pendapat baru itu dipasung, dihina, dimaki, dibunuh, direjam dan dibuang, Tetapi mereka kerja terus, jatuh satu tegak yang lain, sehingga akhirnya kedaulatan ilmupun teguhlah. Kebenarnya teguh di atas sendinya, tidak dapat digoncangkan lagi.
Adapun agama Islam sejak dia dilahirkan adalah membela dan menegakkan kebenaran yang tulen, kebenaran yang tidak bercampur sedikit juga dengan keraguan, Setiap penganut Islam, wajib menyuruh berbuat baik mencegah yang mungkar, sehingga berabad-abad lamanya Islam menjadi guru dunia. Seruan Islamlah yang membangunkan Eropah dari kongkongan pendeta-pendeta yang menghambat-hambat kebenaran itu.
Orang yang berani menyatakan kebenaran, kalau beroleh kawan, adalah kawan yang setia dan yakin akan pendiriannya. Yang tidak ditakuti akan mungkir. Kalau dia beroleh lawan, ialah yang mestipun tidak tunduk selalu kepadanya, namun dia tetap menghormatinya. Dan kalau ada yang memusuhi, bukanlah kerana tidak mengakui kebesarannya. Tetapi rasa permusuhan timbul ialah lantaran telah mengakui lebih dahulu akan kebesarannya.
Kita tidak boleh sunyi setiap waktu dari orang yang berani menyatakan kebenaran. Yang meluruskan barang yang condong, membaiki bangsa yang salah. Yang tidak peduli pada kebencian dan ejekan orang. Meskipun benci kepadanya, namun kebenarnya tidak akan dapat ditolak. Orang tidak akan kuasa menolak pendapat itu. Orang hanya akan sempat membiar fitnah atas dirinya, kerana merasa kalah, dan tidak sanggup menghadapi dengan jalan bermuka-muka kerana pada hakikatnya dia tidak salah.
Apakah yang menimbulkan keberanian?
Yang menimbulkan keberanian ialah kebenaran.
Tidak ada suatu kekerasan senjata apa pun yang dapat mengalahkan keberanian lantaran kebenaran. Belanda berani kerana senjatanya lengkap. Tetapi kelengkapan senjata tidak dapat mengalahkan kebenaran. Benarlah pepatah tua nenek-moyang:
“Berani kerana Benar”
KEMENANGAN
Kita mesti menjadi seorang gagah perkasa, tetapi kita pun mesti menjadi seorang budiman, seorang yang panjang fikiran. Seorang budiman sentiasa mendengarkan suara perasaannya sendiri. suara yang sentiasa menyelinap di dalam sanubarinya.
Dia mengerti bila dia mesti menurutkan rasa marah, di mana tempatnya mengambil kesempatan. Maju sahaja ke medan perang dengan gagah, tetapi akal tumpul, bukanlah pekerti seorang yang gagah, tetapi kecerobohan yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang bodoh.
Seorang yang berjiwa besar memandang lebih dahulu di sasaran mana dia mesti dimasukinya. Baginya bukan sembarangan waktu menyentak berisi ancaman, kerana ancaman itu tidak ada dalam riwayat hidupnya.
Apabila satu kali dia telah tampil ke muka, pulangnya hanya untuk dua perkara:
“Esa hilang, dua terbilang”.!!!
Prof. Dr Hamka
sumber :
http://amarmahmood.com/2008/03/09/falsafah-kehidupan-pak-hamka-buat-para-pejuang/
sihatceriacergas & the endaevour to achieve more...
Thursday, September 10, 2009
suasana ceria di bulan RAMADHAN..yang mulia...
Anak Kecil Penjaja Kue
Oleh : Al-Irsyad Surabaya
Seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan iapun menyantap makanan yang telah dipesan. Saat pemuda itu makan datanglah seorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada pemuda tersebut, “Pak mau beli kue, Pak?” Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab “Tidak, saya sedang makan”.
Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab “Tidak dik saya sudah kenyang”.
Setelah pemuda itu membayar ke kasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda. Mungkin anak kecil ini berpikir “Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang dirumah”.
Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini.
Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan. “Pak mau beli kue saya?”, pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan
uang Rp 1.500,- dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja.
“Dik ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik”.
Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada pengemis yang sedang meminta-minta. Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah
dikasihkan kepada orang lain.
“Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?”.
Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, “Saya sudah berjanji sama ibu di rumah, ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, dan saya akan bangga pulang ke rumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya tidak suka saya jadi pengemis”.
Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak yang sudah punya etos kerja bahwa
“kerja itu adalah sebuah kehormatan”, kalau dia tidak sukses bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja di hadapan ibunya mempunyai nilai yang kurang. Suatu pantangan bagi ibunya, bila anaknya menjadi pengemis, ia ingin setiap ia pulang ke rumah melihat ibu tersenyum menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus
ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang.
Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu “kerja adalah sebuah kehormatan”, ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan baik.
CATATAN :
Semoga cerita di atas bisa menyadarkan kita tentang arti pentingnya kerja. Bukan sekadar untuk uang semata. Jangan sampai mata kita menjadi “hijau” karena uang sampai akhirnya melupakan apa arti pentingnya kebanggaan profesi yg kita miliki. Sekecil apapun profesi itu, kalau kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, pasti akan berarti besar.
penulis : Ruddy Suryadarma
refer : http://idhamlim.blogspot.com/2009/09/anak-kecil-penjaja-kue.html
sihatceriacergas & the endaevour to achieve more...
Saturday, July 11, 2009
Habib Muhammad bin Husein Al-Aidrus
Habib Muhammad bin Husein Al-Aidrus, Wajahnya Jernih Dengan Pancaran Nur (Cahaya)
Habib Muhammad bin Husein Al-Aidrus ialah salah seorang ulama yang menjadi penerang umat di zamannya. Cahaya keilmuan dan akhlaknya menjadi teladan bagi mereka yang mengikuti jejak ulama salaf.
Beliau dilahirkan pada 1888M di Tarim, Hadramaut. Kewalian dan sir beliau tidak begitu tampak di kalangan orang awam. Namun di kalangan kaum arifin billah darjat dan karamah beliau sudah bukan hal yang asing lagi, kerana memang beliau sendiri lebih sering bermuamalah dan berinteraksi dengan mereka.
Didikan dan Perjalanannya
Sejak kecil, Habib Muhammad dididik dan diasuh secara langsung oleh ayah beliau sendiri, Habib Husein bin Zainal Abidin Al-Aidrus. Setelah usianya dianggap cukup matang oleh ayahnya, Habib Muhammad dengan keyakinan yang kuat kepada Allah SWT merantau ke Singapura.
أَََلَمْ َتكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فتَََهَاجَرُوْا فِيْهَا
Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? (An-Nisa': 97)
Setelah merantau ke Singapura, beliau berhijrah ke Palembang, Sumatera Selatan. Di kota ini beliau menikah dengan sepupunya, Aisyah binti Mustafa Al-Aidrus. Dari pernikahan itu beliau dikurniai Allah, tiga anak lelaki dan seorang anak perempuan. Dari Palembang, beliau melanjutkan perantauannya ke Pekalongan, Jawa Tengah. Di sini jugalah beliau seringkali mendampingi Habib Ahmad bin Talib Al-Attas.
Dari Pekalongan beliau berhijrah ke Surabaya tempat Habib Mustafa Al-Aidrus yang tidak lain adalah pamannya tinggal. Seorang penyair, al-Hariri pernah mengatakan:
وَحُبِّ البِلَادَ فَأَيُّهَا أَرْضَاكَ فَاخْتَرْهُ وَطَنْ
Cintailah negeri-negeri mana saja yang menyenangkan bagimu dan jadikanlah (negeri itu) tempat tinggalmu
Akhirnya beliau memutuskan untuk tinggal bersama pamannya di Surabaya, yang waktu itu terkenal di kalangan masyarakat Hadramaut sebagai tempat berkumpulnya para auliaillah. Di antaranya adalah Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdar, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya dan masih banyak lagi para habaib yang mengharumkan nama kota Surabaya waktu itu.
Selama menetap di Surabaya, Habib Muhammad suka berziarah, antara lain ke makam para wali dan ulama di Kudus, Jawa Tengah, dan Tuban, Jawa Timur. Dalam ziarah itulah, beliau konon pernah bertemu secara rohaniah dengan seorang wali karismatik, Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, Gresik.
Dikatakan bahawa para sayyid dari keluarga Zainal Abidin (keluarga ayah Habib Muhammad) adalah para sayyid dari Bani Alawi yang terpilih dan terbaik kerana mereka mewarisi asrar (rahsia-rahsia). Mulai dari ayah dan datuk beliau, tampak jelas bahwa mereka mempunyai maqam di sisi Allah SWT. Mereka adalah pakar-pakar ilmu tasauf dan adab yang telah menyelami ilmu makrifatullah, sehingga patut bagi kita untuk menjadikan mereka sebagai contoh teladan.
Diriwayatkan dari sebuah kitab manaqib keluarga Habib Zainal Abidin mempunyai beberapa karangan yang kandungan isinya mampu memenuhi 10 gudang kitab-kitab ilmu ma'qul/manqul sekaligus ilmu-ilmu furu' (cabang) maupun usul (inti) yang ditulis berdasarkan dalil-dalil jelas yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh para pakar dan ahli (para aslafuna as-solihin).
Peribadinya Yang Luar Biasa
Habib Muhammad bin Husein Al-Aidrus ialah seorang yang pendiam, sedikit makan dan tidur. Setiap orang yang berziarah kepada beliau pasti merasa nyaman dan senang kerana memandang wajah beliau yang ceria dan jernih dengan pancaran nur (cahaya). Setiap waktu beliau gunakan untuk selalu berzikir dan berselawat kepada datuk beliau Rasulullah s.a.w.. Beliau juga gemar memenuhi undangan kaum fakir miskin. Setiap pembicaraan yang keluar dari mulut beliau selalu bernilai kebenaran-kebenaran sekalipun pahit akibatnya. Tidak seorangpun dari kaum muslimin yang beliau khianati, apalagi dianiaya.
Setiap hari jam 10 pagi hingga Zuhur beliau selalu menyempatkan untuk menjamu para tamu yang datang dari segala penjuru kota, bahkan ada sebahagian dari mancanegara. Sedangkan waktu antara Maghrib sampai Isyak, beliau pergunakan untuk menelaah kitab-kitab yang menceritakan perjalanan kaum salaf. Setiap malam Jumaat, beliau mengadakan pembacaan burdah bersama para jamaahnya.
Beliau memang sering diminta nasihat oleh warga di sekitar rumahnya, terutama dalam masalah kehidupan sehari-hari, masalah rumahtangga, dan masalah masyarakat lainnya. Itu semua beliau terima dengan senang hati dan tangan terbuka. Dan konon, beliau sudah tahu apa yang akan dikemukakan, sehingga si tetamu merasa hairan dan puas. Apalagi jika kemudian mendapat jalan keluarnya. “Itu pula yang saya ketahui secara langsung. Beliau adalah guru saya,” tutur Habib Mustafa bin Abdullah Al-Aidrus, menantunya, yang juga pimpinan Majlis Taklim Syamsi Syumus, Tebet Timur Dalam Raya, Jakarta Selatan.
Di antara mujahadah beliau, selama 7 tahun berpuasa dan dan hanya berbuka dan bersahur dengan tujuh biji kurma. Bahkan pernah selama setahun beliau berpuasa dan hanya berbuka dan bersahur dengan gandum yang sangat sedikit. Untuk berbuka puasa dan bersahur selama setahun itu beliau hanya menyediakan gandum sebanyak lima mud saja. Dan itulah pula yang dilakukan oleh Imam al-Ghazali. Satu mud ialah 675 gram.
Habib Muhammad pernah berkata, "Di masa permulaan aku gemar menelaah kitab-kitab tasauf. Aku juga senantiasa menguji nafsuku ini dengan meniru perjuangan mereka (kaum salaf) yang tersurat dalam kitab-kitab salaf itu".
Digelar Habib Neon
Pada suatu malam, ketika ribuan jemaah tengah mengikuti taklim di sebuah masjid di Surabaya, tiba-tiba bekalan elektrik terpadam. Tentu saja mereka risau, heboh. Mereka satu persatu keluar, apalagi malam itu bulan tengah purnama. Ketika itulah dari kejauhan tampak seseorang berjalan menuju masjid. Dia mengenakan gamis dan serban putih, berselempang kain rida warna hijau. Dia ialah Habib Muhammad bin Husein Al-Aidrus.
Begitu masuk ke dalam masjid, aneh dan ajaib, mendadak masjid terang-benderang seolah ada lampu neon yang menyala. Padahal, Habib Muhammad tidak membawa obor atau lampu. Para jamaah kehairanan. Apa yang terjadi? Setelah diperhatikan, ternyata cahaya terang-benderang itu keluar dari tubuh sang habib. Maka, sejak itu beliau mendapat gelaran Habib Neon.
Pewaris Peribadi Imam Ali Zainal Abidin
Habib Muhammad bin Husein Al-Aidrus ialah pewaris peribadi Imam Ali Zainal Abidin yang haliyahnya agung dan sangat mulia. Beliau juga memiliki maqam tinggi yang jarang diwariskan kepada generasi-generasi penerusnya. Dalam hal ini Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad telah menyifati mereka dalam untaian syairnya:
ثبتوا على قـدم النبى والصحب \ والتـابعين لهم فسل وتتبع
ومضو على قصد السبيل الى العلى \ قدما على قدم بجد أوزع
Mereka tetap dalam jejak Nabi dan sahabat-sahabatnya
Juga para tabiin. Maka tanyakan kepadanya dan ikutilah jejaknya.
Mereka menelusuri jalan menuju kemuliaan dan ketinggian
Setapak demi setapak (mereka telusuri) dengan kegigihan dan kesungguhan.
Wafatnya
Habib Muhammad bin Husein Al-Aidrus wafat pada 30 Jamadilawal 1389 H/22 Jun 1969 M dalam usia 71 tahun dan jenazahnya dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Pegirikan, Surabaya, di samping makam paman dan mertuanya, Habib Mustafa Al-Aidrus, sesuai dengan wasiatnya.
Setelah beliau wafat, aktiviti dakwahnya dilanjutkan oleh puteranya yang ketiga, Habib Syeikh bin Muhammad Al-Aidrus dengan membuka majlis burdah di Ketapang Kecil, Surabaya. Haul Habib Muhammad diselenggarakan setiap hari Khamis pada akhir bulan Jamadilawal.
Dihantar oleh M.A.Uswah pada 5:17 AM 0 komen
Label: Taman Habaib Indonesia
sumber : http://tamanhabaib.blogspot.com/
Habib Muhammad bin Husein Al-Aidrus ialah salah seorang ulama yang menjadi penerang umat di zamannya. Cahaya keilmuan dan akhlaknya menjadi teladan bagi mereka yang mengikuti jejak ulama salaf.
Beliau dilahirkan pada 1888M di Tarim, Hadramaut. Kewalian dan sir beliau tidak begitu tampak di kalangan orang awam. Namun di kalangan kaum arifin billah darjat dan karamah beliau sudah bukan hal yang asing lagi, kerana memang beliau sendiri lebih sering bermuamalah dan berinteraksi dengan mereka.
Didikan dan Perjalanannya
Sejak kecil, Habib Muhammad dididik dan diasuh secara langsung oleh ayah beliau sendiri, Habib Husein bin Zainal Abidin Al-Aidrus. Setelah usianya dianggap cukup matang oleh ayahnya, Habib Muhammad dengan keyakinan yang kuat kepada Allah SWT merantau ke Singapura.
أَََلَمْ َتكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فتَََهَاجَرُوْا فِيْهَا
Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? (An-Nisa': 97)
Setelah merantau ke Singapura, beliau berhijrah ke Palembang, Sumatera Selatan. Di kota ini beliau menikah dengan sepupunya, Aisyah binti Mustafa Al-Aidrus. Dari pernikahan itu beliau dikurniai Allah, tiga anak lelaki dan seorang anak perempuan. Dari Palembang, beliau melanjutkan perantauannya ke Pekalongan, Jawa Tengah. Di sini jugalah beliau seringkali mendampingi Habib Ahmad bin Talib Al-Attas.
Dari Pekalongan beliau berhijrah ke Surabaya tempat Habib Mustafa Al-Aidrus yang tidak lain adalah pamannya tinggal. Seorang penyair, al-Hariri pernah mengatakan:
وَحُبِّ البِلَادَ فَأَيُّهَا أَرْضَاكَ فَاخْتَرْهُ وَطَنْ
Cintailah negeri-negeri mana saja yang menyenangkan bagimu dan jadikanlah (negeri itu) tempat tinggalmu
Akhirnya beliau memutuskan untuk tinggal bersama pamannya di Surabaya, yang waktu itu terkenal di kalangan masyarakat Hadramaut sebagai tempat berkumpulnya para auliaillah. Di antaranya adalah Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdar, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya dan masih banyak lagi para habaib yang mengharumkan nama kota Surabaya waktu itu.
Selama menetap di Surabaya, Habib Muhammad suka berziarah, antara lain ke makam para wali dan ulama di Kudus, Jawa Tengah, dan Tuban, Jawa Timur. Dalam ziarah itulah, beliau konon pernah bertemu secara rohaniah dengan seorang wali karismatik, Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, Gresik.
Dikatakan bahawa para sayyid dari keluarga Zainal Abidin (keluarga ayah Habib Muhammad) adalah para sayyid dari Bani Alawi yang terpilih dan terbaik kerana mereka mewarisi asrar (rahsia-rahsia). Mulai dari ayah dan datuk beliau, tampak jelas bahwa mereka mempunyai maqam di sisi Allah SWT. Mereka adalah pakar-pakar ilmu tasauf dan adab yang telah menyelami ilmu makrifatullah, sehingga patut bagi kita untuk menjadikan mereka sebagai contoh teladan.
Diriwayatkan dari sebuah kitab manaqib keluarga Habib Zainal Abidin mempunyai beberapa karangan yang kandungan isinya mampu memenuhi 10 gudang kitab-kitab ilmu ma'qul/manqul sekaligus ilmu-ilmu furu' (cabang) maupun usul (inti) yang ditulis berdasarkan dalil-dalil jelas yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh para pakar dan ahli (para aslafuna as-solihin).
Peribadinya Yang Luar Biasa
Habib Muhammad bin Husein Al-Aidrus ialah seorang yang pendiam, sedikit makan dan tidur. Setiap orang yang berziarah kepada beliau pasti merasa nyaman dan senang kerana memandang wajah beliau yang ceria dan jernih dengan pancaran nur (cahaya). Setiap waktu beliau gunakan untuk selalu berzikir dan berselawat kepada datuk beliau Rasulullah s.a.w.. Beliau juga gemar memenuhi undangan kaum fakir miskin. Setiap pembicaraan yang keluar dari mulut beliau selalu bernilai kebenaran-kebenaran sekalipun pahit akibatnya. Tidak seorangpun dari kaum muslimin yang beliau khianati, apalagi dianiaya.
Setiap hari jam 10 pagi hingga Zuhur beliau selalu menyempatkan untuk menjamu para tamu yang datang dari segala penjuru kota, bahkan ada sebahagian dari mancanegara. Sedangkan waktu antara Maghrib sampai Isyak, beliau pergunakan untuk menelaah kitab-kitab yang menceritakan perjalanan kaum salaf. Setiap malam Jumaat, beliau mengadakan pembacaan burdah bersama para jamaahnya.
Beliau memang sering diminta nasihat oleh warga di sekitar rumahnya, terutama dalam masalah kehidupan sehari-hari, masalah rumahtangga, dan masalah masyarakat lainnya. Itu semua beliau terima dengan senang hati dan tangan terbuka. Dan konon, beliau sudah tahu apa yang akan dikemukakan, sehingga si tetamu merasa hairan dan puas. Apalagi jika kemudian mendapat jalan keluarnya. “Itu pula yang saya ketahui secara langsung. Beliau adalah guru saya,” tutur Habib Mustafa bin Abdullah Al-Aidrus, menantunya, yang juga pimpinan Majlis Taklim Syamsi Syumus, Tebet Timur Dalam Raya, Jakarta Selatan.
Di antara mujahadah beliau, selama 7 tahun berpuasa dan dan hanya berbuka dan bersahur dengan tujuh biji kurma. Bahkan pernah selama setahun beliau berpuasa dan hanya berbuka dan bersahur dengan gandum yang sangat sedikit. Untuk berbuka puasa dan bersahur selama setahun itu beliau hanya menyediakan gandum sebanyak lima mud saja. Dan itulah pula yang dilakukan oleh Imam al-Ghazali. Satu mud ialah 675 gram.
Habib Muhammad pernah berkata, "Di masa permulaan aku gemar menelaah kitab-kitab tasauf. Aku juga senantiasa menguji nafsuku ini dengan meniru perjuangan mereka (kaum salaf) yang tersurat dalam kitab-kitab salaf itu".
Digelar Habib Neon
Pada suatu malam, ketika ribuan jemaah tengah mengikuti taklim di sebuah masjid di Surabaya, tiba-tiba bekalan elektrik terpadam. Tentu saja mereka risau, heboh. Mereka satu persatu keluar, apalagi malam itu bulan tengah purnama. Ketika itulah dari kejauhan tampak seseorang berjalan menuju masjid. Dia mengenakan gamis dan serban putih, berselempang kain rida warna hijau. Dia ialah Habib Muhammad bin Husein Al-Aidrus.
Begitu masuk ke dalam masjid, aneh dan ajaib, mendadak masjid terang-benderang seolah ada lampu neon yang menyala. Padahal, Habib Muhammad tidak membawa obor atau lampu. Para jamaah kehairanan. Apa yang terjadi? Setelah diperhatikan, ternyata cahaya terang-benderang itu keluar dari tubuh sang habib. Maka, sejak itu beliau mendapat gelaran Habib Neon.
Pewaris Peribadi Imam Ali Zainal Abidin
Habib Muhammad bin Husein Al-Aidrus ialah pewaris peribadi Imam Ali Zainal Abidin yang haliyahnya agung dan sangat mulia. Beliau juga memiliki maqam tinggi yang jarang diwariskan kepada generasi-generasi penerusnya. Dalam hal ini Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad telah menyifati mereka dalam untaian syairnya:
ثبتوا على قـدم النبى والصحب \ والتـابعين لهم فسل وتتبع
ومضو على قصد السبيل الى العلى \ قدما على قدم بجد أوزع
Mereka tetap dalam jejak Nabi dan sahabat-sahabatnya
Juga para tabiin. Maka tanyakan kepadanya dan ikutilah jejaknya.
Mereka menelusuri jalan menuju kemuliaan dan ketinggian
Setapak demi setapak (mereka telusuri) dengan kegigihan dan kesungguhan.
Wafatnya
Habib Muhammad bin Husein Al-Aidrus wafat pada 30 Jamadilawal 1389 H/22 Jun 1969 M dalam usia 71 tahun dan jenazahnya dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Pegirikan, Surabaya, di samping makam paman dan mertuanya, Habib Mustafa Al-Aidrus, sesuai dengan wasiatnya.
Setelah beliau wafat, aktiviti dakwahnya dilanjutkan oleh puteranya yang ketiga, Habib Syeikh bin Muhammad Al-Aidrus dengan membuka majlis burdah di Ketapang Kecil, Surabaya. Haul Habib Muhammad diselenggarakan setiap hari Khamis pada akhir bulan Jamadilawal.
Dihantar oleh M.A.Uswah pada 5:17 AM 0 komen
Label: Taman Habaib Indonesia
sumber : http://tamanhabaib.blogspot.com/
Habib Umar bin Hafidz

Sosok Habib Umar bin Hafidz tidak bias dipisahkan dari keberadaan pondok pesantren Darul Mustafa yang didirikannya di Kota Tarim, Hadramaut, yang melahirkan da’i-da’i muda tersebar di penjuru dunia. Dalam buku ini kita diajak untuk mengenal lebih jauh tentang apa dan siapa Habib Umar bin Hafidz.
Bagi para pecinta Habib umar, buku ini sudah seharusnya menjadi rujukan yang wajib untuk melengkapi koleksi bacaan di rumah. Karena, selain berisi biografi singkat beliau, dan beberapa petikan ceramah ketika berkunjung ke Indonesia, buku ini juga menjadi unik dan menarik karena di dalamnya dilengkapi118 foto ekslusif. Insya Allah dengan membacanya, anda akan medapata kesejukan da ketentraman hatidari mutiara-mutiara nasehat yang disampaikan oleh sang Habib.
Beli di:
http://fajarilmubaru.com.my
Sunday, April 26, 2009
khas untuk jiwa lemah dan penakut ,..BERJUANGLAH HINGGA MENCAPAI KEJAYAAN atau MATI MULIA ( we will never go down......achieve GLORY or SYAHEED )
( semanjat juang rakyat palestin melawan tentera israel yang anggap dirinya besar dan kuasa tetapi dengan kuasa ALLAH TAALA , rakyat yang tertindas bangun melawan hingga titisan darah terakhir hingga berjaya mengusir keluar dari bumi gaza.., keberanian tinggi dan kejujuran dalam berjuang & beramal diperlukan dalam kehidupan seharian untuk berjaya menjadi manusia yang dihormati.dunia & akhirat.insyaallah
.............................................................................
................................................................................
...............................................................................
Sunday, April 19, 2009
aksi-aksi di majlis iftifhal..
- walaupun dengan serba kekurangan , ALHAMDULLILLAH , ALLAH TAALA mempermudahkan majlis ini berjalan lancar serta mendapat kerjasama semua pihak dan kami bersyukur selamat semuanya..semoga cita2 ahli kariah dan tok guru pondok untuk mendirikan sebuah masjid dan pembangunan pondok berjaya ....insyaallah
Subscribe to:
Posts (Atom)